Tatalaksana Gagal Ginjal Akut pada Leptospirosis

Permasalahan Yang Hendak Dikaji

Pada kasus leptospira bentuk berat (Weil’s Disease), terdapat tanda-tanda patognomonis seperti sklera ikterik, sufisi konjungtival, nyeri muskulus gastroknemius. Keterlibatan organ lain seperti hati, jantung, dan ginjal dapat berakibat fatal jika tidak mendapatkan penanganan dengan baik. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus yang dicurigai adanya kondisi gagal ginjal akut?

Pengkajian Permasalahan

Pada infeksi leptospira, terdapat tiga buah mekanisme terjadinya gagal ginjal akut:

1. Pertama dapat terjadi karena invasi/nefrotoksik langsung oleh leptospira. Invasi ini menyebabkan kerusakan tubulus dan glomerulus sebagai efek langsung dari migrasi leptospira yang menyebar hematogen menuju kapiler peritubuler munuju jaringan intersitium, tubulus dan lumen tubulus. Kerusakan ini jaringan sendiri belum jelas apakah hanya efek migrasi atau juga terdapat kaitan dengan efek endotoksin leptospira.

2. Reaksi imunologis yang berlangsung cepat, adanya kompleks imun (terjadi pada fese imun infeksi leptospira) dalam sirkulasi dan endapan komplemen serta adanya electron dence bodies pada glomerulus membuktikan adanya proses immune-complex glomerulonephritis, dan terjadi tubulo intersitial nefritis.

3. Reaksi non spesifik terhadap infeksi (seperti infeksi yang lain) menyebabkan iskemia ginjal.

Iskemia ginjal, glomerulonefristis, TIN dan invasi kuman menyebabkan terjadinya nekrosis yang menghasilkan kondisi gagal ginjal akut sehingga terjadi pelepasan mediator inflamasi (TNF-α, IL-I, PAF, PDGF-β, TXA2, LTC4, TGF-β) dan terekspresinya leucosyite adhesion molecules yang akan meregulasi fungsi leukosit sebagai respon adanya renal injury.

Bentuk gagal ginjal akut pada kasus leptospira berupa manifestasi oligouria, termasuk adalah produksi urin kurang dari 600 cc/4 jam dan pasien telah dalam keadaan hidrasi baik, dan tanpa manifestasi oliguria (produksi urin lebih dari 600 cc/4 jam). Beberapa hal/tanda yang mengarah pada prognosis yang kurang baik adalah: (1) Adanya oligouria/anuria yang berlangsung lama; (2) BUN selalu meningkat lebih dari 60 mg% per 24 jam; dan (3) rasio ureum urin/darah tidak meningkat.

Dalam pemeriksaan histopatologi dengan mikroskop elektron tipe oligouria nampak adanya gambaran obstruksi dan nekrosis tubulus, endapan komplomen pada membrana basalis serta infiltrasi sel radang pada jaringan intersisial. Pada tipe non oligouria nampak edema pada tubulus dan jaringan intersisial tanpa adanya nekrosis. Duktus kolektifus pars medularis resisten terhadap vasopresin, sehingga tidak mampu memekatkan urin dan terjadi poliuria.

Tatalaksana dalam kasus gagal ginjal akut dapat berupa terapi suportif, diantaranya:

1. Hidrasi cairan yang mengandung elektrolit sampai tercapai hidrasi yang baik, pengawasan elektrolit dan kesetimbangan cairan per 24 jam;

2. Administrasi deuritika (jika bisa yang bersifat hemat kalium karena kemungkinan adanya peningkatan hormon kortisol dan aldosteron yang meningkatkan ekskresi kalium), untuk mengubah tipe oligouria menjadi poliuria (memperbaiki prognosis);

3. Administrasi agen dopaminergik untuk memperbaiki perfusi ginjal;

4. Peptida natriuretik atrial;

5. Untuk preservasi integritas sel: calcium channel blocker

6. Stimulasi generasi sel (asam amino termasuk glisin dan growth factor)

Pemberian nutrisi yang adekuat juga akan membantu dengan mempertimbangkan: meminimalkan kesetimbangan nitrogen negatif, asupan kalori yang mencukupi, mencegah volume overload. Pemberian antibiotika dengan tujuan eradikasi leptospira disesuaikan dengan ketersediaan preparat dan sebagai standar adalah penicilin G. Juga dapat diberikan preparat antipriteik seperti parasetamol untuk gejala demam yang timbul. Adapun indikasi untuk melakukan dialisis pada kasus leptspira dengan gagal ginjal akut adalah:

1. Hiperkatabolik, produksi ureum > 60 mg/24 jam

2. Hiperkalemia, serum kalium > 6 meq/L

3. Asidosis metabolik, HCO3 < 12 meq/L

4. Perdarahan

5. Kadar ureum yang sangat tinggi disertai gejala klinik.

Simpulan

Pada kasus infeksi leptospira seorang penderita dapat mengalami gagal ginjal akut yang disebabkan baik oleh migrasi langsung leptospira, kompleks imun, maupun infeksi. Terdapat tipe gagal ginjal akut dengan oligoria maupun non-oligouria, prognosis yang buruk jika penderita mengalami oligouria atau anuria. Tatalaksana yang diberikan meliputi terapi suportif seperti hidrasi, regimen diuretik dan dopaminergik, terapi antibiotik untuk leptospira, manajemen nutrisi yang baik. Dalam beberapa kasus dengan kreteria tertentu diperlukan tindakan dialiasis (hemodialisa temporer).
Daftar Pustaka

Zein, Umar. 2006. Leptospirosis – Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. H.1845-48.

Lestariningsih. 2002. Gagal Ginjal Akut Pada Leptospirosis – Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Teaňo, Ruel O.; Dimaano, Efren M.; Santiago, Edna. 2000. Leptospirosis with Acute Renal Failure: The Role of Conservative Management. Phisycian Journal of Microbiology Infection Diseases 2001; 30(2): 51-55. Aviable at URL: Here

Prognosis Prosthesa Katup Jantung

Bagaimana prognosis pasien-pasien dengan prosthesis katup jantung tanpa adanya kondisi komplikasi yang lain.

Pengkajian Permasalahan

Katup prosthetik merupakan upaya pengembalian fungsi katup jantung yang rusak dengan cara menggantinya dengan katup buatan. Secara garis besar terdapat dua jenis katup prosthetik , yaitu bioprosthesis dan katup mekanikal.

Bioprosthesis terbuat dari jaringan tubuh manusia atau hewan. Beberapa tipe berbeda termasuk 1) hemograft (jaringan tubuh manusia), baik aortik maupun pulmonari; 2) heterograft (katup dari babi/porcine), sebagai contoh, Hancock atau Carpentier–Edwards; dan 3) perikardial (katup dari sapi/bovine), sebagai contoh, Ionescu–Shiley. Katup dari jaringan memiliki keuntungan dimana mereka tidak bersifat trombogenik sebagaimana katup mekanikal; bagi para pasien dengan ritme sinus tidak memerlukan antikoagulan dalam jangka panjang, meskipun mereka akan memerlukannya untuk 3 hingga 6 bulan pertama pasca penggantian katup. Bagaimana pun juga masih ada kemungkinan emboli sistemik, dengan prosthesis biologis pada pasien-pasien dengan fibrilasi artrial, khususnya dengan prosthesis mitral. Kekurangannya adalah katup dari jaringan ini terdegenerasi dan mengalami kalsifikasi, dan pasien-pasien memerlukan operasi ulang. Sekitar 50% pasien memerlukan penggantian ulang katup dalam 10 hingga 15 tahun. Pada pasien yang muda (20 tahun atau lebih muda), katup-katup ini dapat terkalsifikasi dengan sangat cepat. Katup jenis ini bertahan sedikit lebih lama pada posisi trikuspid daripada dalam posisi disebelah kiri jantung. Katup-katup aortik memiliki durabilitas yang sedikit lebih baik dibandingkan katup-katup mitral. Kegagalan prosthetic dapat dideteksi dengan evaluasi klinis dan echocardiography dua-dimensi dan doppler. Tingkat tahunan (annual rates) akan thrombosis katup 0,03%, thromboembolisme 0,87%, perdarahan 0,38%, dan disfungsi non-struktural sekitar 0,38%. Diperkirakan pada pasien laki-laki usia 65 tahun pasca implanasi katup, perkiraan harapan hidup (life expectancy) sekitar 11,3 tahun, risiko aktual untuk reoperasi sekitar 28%, dan kejadian-kejadian terkait katup (valve-related events) sekitar 47%.

Katup-katup mekanik merupakan katup-katup buatan yang umumnya berbahan dasar logam campuran. Sebagai contoh katup berbentuk bola (ball valve), Starr-Edwards, memiliki waktu guna yang luar biasa dan disebut sebagai high-profile valve. Katup-katup yang lebih baru seperti bileaflet St. Jude atau tilting disc valve (contoh: Björk-Shiley) memiliki profil yang lebih rendah. Semua katup menakik memiliki risiko thromboembolisme dan memerlukan antikoagulan jangka panjang. Hemolisis dapat terjadi pada prothesis mekanis, terutama jika terdapat kebocoran perivalvular (disekitar katup). Komplikasi antikoagulan termasuk perdarahan, ketika rasio normalisasi internasional terlalu tinggi, dan thrombosis, ketika rasio dibawah rasion terapi (subtherapeutic). Tingkat perdarahan minor adalah 2% hingga 4% per tahun, dan perdarahan mayor 1% hingga 2% per tahun. Thromboemboli dan perdarahan sering terjadi setelah AVR (aortic valve replacement) dengan prosthesis mekanik (penelitian dengan St. Jude Medical bileaflet prosthesis) dan memiliki dampak penting dalam survival rate, sehingga kontrol optimal International Normalized Ratio adalah yang terpenting. Risiko komplikasi dari prosthesis mekanis, termasuk endokarditis, sekitar 1% pertahun. Semua pasien dengan prosthesis katup memerlukan antibiotik profilaksis untuk endokarditis. Angka harapan hidup (life expectancy) dan harapan hidup tanpa komplikasi (event-free life expectancy) sekitar 7 dan 5 tahun pada pasien laki-laki usia 75 tahun. Terhitung risiko seumur hidup untuk thromboemboli dan perdarahan 22% dan 15% pada pasien laki-laki usia 35 tahun, serta 7% dan 37% pada pasien laki-laki usia 75 tahun.

Simpulan

Prognosis pada pasien dengan penggantian katup jantung sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis katup yang digunakan, usia pasien, dan kelanjutan pengawasan dan medikasi pasca implanasi. Secara umum penggantian katup dapat memperjang harapan hidup bagi pasien-pasien dengan indikasi penggantian katup jantung. Namun beberapa komplikasi juga dapat terjadi seperti perdarahan dan tromboemboli, yang pada tingkatan tertentu jika tidak terkontrol secara baik dan mencukupi dapat mengancam jiwa pasien.

Daftar Pustaka

Habermann, Thomas M; Gosh, Amit K. 2008. Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. Mayo Foundation for Medical Education and Research. Mayo Clinic Scientific Press and Informa Health Care USA, Inc. Aviable at Gadjah Mada Medical School’s Electronic Library.

Puvimanasinghe; Steyerberg; Takkenberg et al. 2001. Prognosis After Aortic Valve Replacement With A Bioprosthesis – Prediction Based on Meta-Analysis and Microsimulation. American Heart Association, Inc. Aviable at URL: http://www.circulationaha.org.

Takkenberg; Puvimanasinghe; Herwerden et al. 2001. Prognosis After Aortic Valve Replacement with St. Jude Medical Bileaflet Prosthesis: Impact on Outcome of Varying Thromboembolic and Bleeding Hazards. The European Society of Cardiology. Eur Heart J Supplement Vol 3 (Suppl Q) December 2001.

Benussi, Stefano; Verzini, Alessandro; Alfieri Ottavio. 2004. Mitral Valve Replacement and Thromboembolic Risk. The Journal of Heart Valve Disease 2004; 13 (Supplement 1): S81-S83.

Kromatografi untuk Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Beberapa daerah di Indonesia masih merupakan kantong-kantong malaria. Penegakan diagnosis pada pasien malaria selain melalui penemuan gejala-gejala klinis malaria yang umum melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, juga melalui pemeriksaan penunjang seperti:

1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria: tetesan preparat darah tebal dan tetesan darah tipis. (Gold Standard)

2. Tes antigen: P-F test (Rapid Test dengan metode ICT).

3. Tes serologi.

4. Pemeriksaan PCR.

Permasalahan yang hendak dikaji:

Penegakkan diagnosis malaria dapat dilakukan jika pada tersangka penderita ditemukan parasit malaria. Pemeriksaan ICT (Immunochromatographic test) malaria menggunakan pendeteksian adanya antigen malaria. Seberapakah spesifisitas dan sensitivitas pemeriksaan ICT malaria?

Pengkajian Masalah:

Pada laporan WHO tentang New Perspectives: Malaria Diagnosis 1999, tes diagnosa cepat (Rapid Diganostic Test – RPD) dalam hal ini termasuk dengan metode ICT harus menyediakan hasil setidaknya seakurat hasil-hasil yang diberikan oleh pemeriksaan mikrokospis yang dilakukan oleh seorang teknisi menengah (rata-rata) dalam kondisi-kondisi lapangan yang umum. Maka dari itu RDT diharuskan mencapai karakteristik teknis yang spesifik sebagai berikut:

1. Sensitivitas:

Sensitivitas merupakan isu yang paling kritikal, oleh karena hasil negatif-palsu dapat menyebabkan tidak adanya medikasi pada sebuah penyakit yang meliki potensi yang fatal. RDT harus dapat mendeteksi keempat spesies parasit malaria yang menginfeksi manusia, dan setidaknya mampu membedakan P. falciparum dari spesies lainnya. Keseluruhan sensitivitas (menggunakan mikroskopi seorang ahli sebagai standar emas) seharusnya di atas 95%. Densitas parasit di atas 100 parasit aseksual per mikroliter darah harus dapat dideteksi secara tepat, dengan sensitivitas mendekati 100%.

2. Spesifitas:

Spesifitas setidaknya 90% bagi semua spesies malaria.

Secara umum ICT memiliki tiga target antigen yang dapat dideteksi, yaitu: (1) parasite lacatate dehydrogenase (pLDH) yang merupakan enzim glikolitik pada Plasmodium sp., yang dihasilkan pada tahap seksual dan aseksual parasit, beberapa tes menyertakan antibodi untuk P. vivax-specific pLDH; (2) histidine rich protein 2 (HRP-2, hanya ditemukan pada P. falciparum) yang merupakan protein larut air yang dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit P. falciparum dan diekspresikan pada membran eritrosit; dan (3) aldolase (antigen pan-malarial, ditemukan pada semua spesies malaria).

Penelusuran kembali oleh Allen Cheng dan David Bell pada presisi RPD untuk malaria melalui 145 studi yang diidentifikasi melalui PubMed, WHO dan review lainnya, menunjukkan bahwa RPD memiliki jenjang sensitivitas yang lebar, mulai dari rendah hingga 100%, sedangkan spesifitas secara umum baik hampir di semua studi. Diakui bahwa terdapat kesulitan dalam membandingkan antara satu studi dan lainnya oleh karena berbagai kemungkinan seperti perbedaan manufaktur peralatan tes, kemungkinan variasi geografis pada antigen malaria, kondisi lingkungan, pembedaan baku emas (PCR atau mikroskopis).

Pada uji diagnostik plasmodium malaria menggunakan metode imunokromatografi diperbandingkan dengan pemeriksaan mikrokospis (Ima Arum, dkk 2005), menunjukkan bahwa ICT memiliki sensitivitas 100%, spesifitas 96,7%, nilai prediksi positif 83,2% dan nilai prediksi negatif sebesar 100%. Disebutkan juga bahwa Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Walkedan Playford6 dengan menggunakan ICT p.f/p.v dan diperoleh sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 97% dan 90%; sedangkan yang menggunakan perangkat alat (kit) OptiMal, Walker mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 85% dan 96%. Humar dkk yang menguji Para sight F menemukan sensitivitas 88% dan spesifisitas 97%. Di Maesod Thailand, Chansuda Wongsrichanalai, Iraeema, Arevalo dkk menggunakan uji Now® ICT pf/pv dan menemukan sensitivitas dan spesifisitas untuk P. falciparum masing-masing 100% dan 96,2%; sensitivitas dan spesifisitas untuk P. vivax adalah 87,3% dan 97,7%. Farces, Zhong dkk menguji Binax Now® ICT dibandingkan dengan PCR dan menemukan sensitivitas 94% untuk P. falciparum dan 84% untuk panmalaria; sedangkan spesifisitas 99% ditemukan untuk P. falciparum maupun panmalaria. Penelitian Tjitra dkk , dengan menggunakan ICT pf dan pv didapatkan sensitivitas 95%, spesifisitas 89,6%, nilai prediksi positif 96,2% dan nilai prediksi negatif 88,1%. Agustini dan Widayanti pada penelitian yang menggunakan NOW® ICT pf/pv diperoleh sensitivitas 97%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 88,6%.

Simpulan:

Dari berbagai penelitian dapatkan berbagai nilai sensitivitas dan spesifitas yang berbeda pada berbagai produk serta penggunaan metode ICT. Namun secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan ICT meliki sensitivitas dan spesifitas yang dapat memenuhi kriteria teknis yang diharuskan oleh WHO, walau terdapat beberapa ketidaksesuaian pada beberapa penelitian. ICT dapat membantu menegakkan diagnosis malaria secara cepat, dan sangat bermanfaat pada daerah-daerah endemik dimana ketersediaan baku emas masih minim (misal tidak tersedianya petugas lapangan yang ahli dalam pemeriksaan hapusan dari tepi), namun harus tetap diperhatikan cost- effective dari pengadopsian metode ini pada suatu lingkungan kerja.

Daftar Pustaka

Harijanto, P.N. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Sub Tropik Infeksi – Sub Malaria. Pusat Penerbitan, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 1754 s.d. 1766.

WHO. 1999. New Perspectives: Malaria Diagnosis. Report of A Joint WHO/ USAID Informal Consultantion 25-27 October 1999. World Health Organization. Geneva.

Ima Arum L, dkk. 2005. Uji Diagnostik Plasmodium Malaria Menggunakan Metode Imunokromatografi Diperbandingkan Dengan Pemeriksaan Mikroskopis. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3, July 2006: 118-122.

Allen Cheng, David Bell. 2006. What is The Precision of Rapid Diagnostic Tests for Malaria. International Child Health Review Collaboration.

Diet dan Splenektomi pada Thalassemia

Jumlah penderita thalassemia di dalam negeri tidaklah sedikit, saat ini hal yang paling umum yang dapat dilakukan dunia media untuk membantu orang-orang dengan thalassemia adalah melakukan transfusi darah berulang ketika tubuh kehilangan darah melalui perombakan darah yang rusak secara berlebihan. Namun prosedur seperti ini dan akibat kondisi thalassemia itu sendiri berdampak tubuh seseorang akan berlebihan atau terbebani oleh kadar zat besi yang tinggi.

Dalam 1 liter darah terdapat kurang lebih 500 mg zat besi (Fe), dan tubuh dalam kondisi normal setiap harinya akan kehilangan besi kurang lebih 1 mg. Oleh karenanya jika seseorang mendapatkan transfusi dalam secara terus menerus tanpa disertai adanya pendarahan yang kronis maka zat besi bersama darah transfusi akan tertimbun dalam tubuh dan mengakibatkan hemosiderosis transfusional (HT).

Penimbunan zat besi pada organ-organ tubuh menyebabkan terganggunya fungsi organ yang bersangkutan. HT umumnya terjadi pada pasien yang mengalami transfusi kronis seperti pada pasien anemia aplastik, anemia hemolitik dan Thalassemia.

Untuk mengurangi kemungkinan HT maka dapat diusahakan pemberian transfusi seminimal mungkin atau eritrosit yang ditransfusikan terpilih yang masih muda (neocyte) untuk memperpanjang usia eritrosit. Dapat juga digunakan medikasi membantu meningkatkan ekskresi besi melalui urine (Iron Chelation Therapy) dengan Desferrioxamine (Desferal) dosis 20-40 mg/KgBB per sub-kutan. Penderita Thalassemia sering kali kekurangan vitamin C sehingga pemberian 100 mg/hari akan membantu memperbaiki efek chelation, namun perlu dipertimbangkan bahwa vitamin C akan menambah reabsorpsi zat besi sehingga pemberian harus benar-benar dengan pertimbangan konsultan kesehatan/gizi yang ahli.

Selama periode transfusi konsumsi zat besi pada pasien Thalassemia juga dikurangi guna mengurangi kemungkinan HT. Jika kemungkinan besar terjadi penumpukan zat besi pada pasien, maka pasien dapat menjalan protokol diet bagi pasien dengan hemochromatosis dan anemia yang telah dimodifikasi. Pada pasien pemberian protein hewani tetap dapat diberikan, misal dengan pemberian ikan laut harus dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi (tidak mentah atau setengah matang). Tidak juga disarankan untuk pemberian vitamin C buatan, kecuali yang berasal dari sumber natural. Konsumsi teh setelah makan juga dapat membantu menghambat penyerapan zat besi, karena tannin di dalamnya berperan sebagai inhibitor, namun ini bukanlah sebuah terapi pengganti diet. Pengambilan darah secara reguler untuk mengurangi penumpukan besi tidak merupakan terapi yang disarankan. Baik diet zat besi maupun penggunaan terapi iron chelating agents, pasien sebaiknya dipantau kadar besi serumnya secara berkala.

Pengurangan rekurensi transfusi pada pasien thalassemia juga dapat dilakukan guna menghambat terjadinya HT. Splenectomi pada merupakan pilihan pada pasien thalassemia dengan hiperplasia splenomegali. Penelitian pada anak dengan SCA (Ahmed, 2006), menunjukkan bahwa dengan manajemen pre-operasi yang baik, splenektomi tidak hanya aman, namun juga bermanfaat dalam mengurangi frekuensi transfusi pada pasien, serta menghilangkan ketidaknyamanan dan tekanan mekanis akibat pembesaran limpa. Sebuah studi perbandingan antara splenektomi parsial (SP) dan splenektomi total (ST) pada pasien ?–thalassemia menunjukkan bahwa pada kedua tindakan dapat menurunkan keperluan transfusi pada pasien hingga tiga kali lipat jumlah sebelum operasi. 3 tahun pasca operasi 22,7% pada SP dan 13,3% pada ST memerlukan kembali jumlah transfusi yang sama seperti sebelum operasi, dan menjadi 27,3% pada SP dan 18,3% pada ST setelah 5 tahun. Dari 143 kasus yang diikuti selama periode 1991-1999, 2 pasien SP dan 6 pasien ST menunjukkan tanda-tanda sepsis yang kemungkinan besar adalah dampak splenektomi, (Bahador, et all 1999). Beberapa pendapat lain menyatakan perlu pemberian imunisasi pre-operasi oleh karena adanya resiko sepsis pasca operasi (overwhelming post-splenectomy infection), namun beberapa pendapat lainnya menyatakan pemberian imunisasi tidak bermakna.

Simpulan:

Pada pasien thalassemia yang menjalani transfusi berulang memiliki kemungkinan risiko untuk mengalami hemosiderosis transfusional yang dapat mengakibatkan gangguan multi organ. Tatalaksana untuk risiko ini adalah meningkatkan ekskresi zat besi dengan terapi iron chelating agents (e.g. deferoxamine, deferiprone, deferasirox), mengurangi asupan zat besi dengan diet zat besi sesuai dengan kebutuhan (dipantau dengan pengukuran kadar besi serum secara berkala). Splenektomi dapat dilakukan dengan indikasi mengurangi frekuensi transfusi, sehingga menurunkan risiko hemosiderosis transfusional. Namun perlu diperhatikan bahwa risiko terjadinya sepsis meningkat pada pasien pasca splenektomi.

Daftar Pustaka:

Bahador, Ali., et all. 1999. A Comparative Study of Partial vs Total Splenectomy in Thalassemia Major Patients. Journal of Indian Association Pediatric Surgery – July/September 2007 – Vol. 12 – Issue 3. Aviable at URL: http://www.jiaps.com.

Wolff, James A., et all. 1960. Effect of Splenectomy on Thalassemia. Pediatric® Official Journal of The American Academy of Pediatrics 1960;26;674-678. Aviable at URL: http://www.pediatrics.org.

Muljono, Budi. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Sub Hematologi – Sub Hipersplenisme. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 681.

Al-Salem, Ahmed H. 2006. Indications and Complications of Splenectomy in Children with Sickle Cell Disease. Journal of Pediatric Surgery – November, Volume 41, Issue 11, Pages 1909-1915. Aviable at URL: http://www.jpedsurg.org.

Artikel: Hemochromatosis and Anemia Diet. 2002. Iron Overload Disease Assn. Inc. Aviable at: URL: http://www.ironoverload.org/Diet.html.

Artikel: Hemosiderosis and Iron Overload. 2007. Morefocus Group Inc. Aviable at URL: http://www.about-blood-disorders.com/articles/iron-disorders/hemosiderosis.php.